Showing posts with label religi. Show all posts
Showing posts with label religi. Show all posts

Thursday, 26 March 2015

Alhamdulillah, Akhirnya Polwan (Muslim) Resmi Boleh Berhijab

Alhamdulillah, akhirnya 'payung hukum polwan berjilbab telah diketok'.
Berikut ini adalah berita terkait seperti yang dilansir oleh Divisi Humas Mabes Polri dalam halaman facebook resmi miliknya:

Selamat kepada polwan muslim yang ingin menggunakan hijab, kini telah dikeluarkan Kep Kapolri yang mengatur tentang seragam Polwan berhijab yang disahkan dengan Kep Kapolri Nomor : 245/III/2015, tanggal 25 Maret 2015 tentang Perubahan Atas Sebagin Isi Surat Keputusan Kepala Kepolisian Negara RI No Pol: SKEP/702/IX/2005 tanggal 30 September 2005 tentang Sebutan, Penggunaan pakaian dinas seragam Polri dan PNS Polri.

Isi ubahannya:

Saturday, 20 September 2014

Shaf Terpisah Karena Sajadah

أَقِيمُوا صُفُوفَكُمْ وَتَرَاصُّوا
”Luruskan shaf kalian dan rapatkan.” (HR. Bukhari )
Setiap menjelang sholat berjamaah, kita selalu mendengar imam mengucapkan kalimat ”Luruskan shaf kalian, karena meluruskan shaf bagian dari kesempurnaan shalat”. Meskipun tidak membatalkan shalat, kerapian (lurus dan rapat) shaf perlu diperhatikan demi meraih kesempurnaan shalat.
(Mungkin) banyak dari kita gak sadar kalo ternyata salah satu faktor yang menyebabkan longgarnya shaf ketika sholat adalah karena sajadah.Sajadah berfungsi sebagai alas untuk menjaga kebersihan ketika shalat dan juga sebagai sutrah ato pembatas shalat didepannya. Ukuran sajadah pada umumnya cukup besar karena emang didesain untuk mengcover seluruh anggota tubuh ketika melakukan sujud. Hal tersebut tentu wajar dan tidak menjadi masalah ketika dipakai untuk sholat sendiri. Akan tetapi dengan ukuran rata-rata tersebut jika digunakan secara bersama-sama dalam suatu shalat berjamaah menimbulkan jarak dalam shaf shalat. Padahal perlu dipahami bahwa sajadah bukanlah kavling shalat. Jadi, mending gak usah bawa sajadah deh, kalo mo jamaah (di Masjid). Jangan sampai gara-gara sajadah, shaf kita jadi terpisah (seperti foto di bawah ini).
Saat ini, permasalahan tidak selesai sampai di situ saja. Ketika tidak membawa sajadah, ternyata karpet di masjid-masjid sekarang memiliki motif yang sedang trend seperti sajadah juga. Akibatnya ada sebagian jamaah yang susah ketika diingatkan untuk merapatkan shaf, alasannya mengikuti persis dengan pola sajadah di karpet. *sungguh menyedihkan.
Maap pak ye, ane pake buat contoh. (ngambil foto dr kaskus)
Padahal sudah jelas tentang perintah Rasulullah SAW untuk merapatkan dan meluruskan barisan atau shaf ketika shalat.
“Sungguh luruskanlah shaf kalian, atau (jika tidak) Allah akan benar-benar menimbulkan perselisihan di antara wajah-wajah kalian.” (HR Al Bukhari dan Muslim). 
Tidak heran kalo banyak dari kita dan juga para pemimpin kita yang memiliki sifat egois sehingga tali silaturahmi (ukhuwah islamiyahnya) juga renggang. Hal ini merupakan cerminan dari barisan shalat kita yang masih terkotak-kotak sajadah. *Mikir
lalu bagaimana cara yang tepat dalam meluruskan shaf?
Dari Anas bin Malik radhiallahu ‘anhu, dia berkata: “Dahulu (pada masa Nabi) salah seorang dari kami menempelkan pundaknya dengan pundak teman (di sebelah)nya dan tapak kakinya dengan tapak kaki teman (di sebelah)nya.” (HR Al Bukhari )
"Luruskan shaf kalian, jadikan setentang di antara bahu-bahu, dan tutuplah celah-celah yang kosong, lunaklah terhadap tangan saudara kalian dan jangan kalian meninggalkan celah-celah bagi syaithon. Barangsiapa menyambung shaf maka Allah menyambungkannya dan barangsiapa memutuskannya maka Allah akan memutuskannya" (HR Bukhari, Abu Dawud)
Jadi, yang dirapatkan dalam shaf bukan hanya kaki saja tetapi juga pundaknya dan untuk meluruskan adalah dengan mensejajarkan tumit. Dan agar menyambung shaf, jangan sampai menyisakan celah.
^^^
Hendaknya hal ini dimulai dari kita sendiri sebagai individu muslim untuk senantiasa istiqomah melaksanakan sunnah Rasulullah dengan cara merapatkan dan meluruskan shaf dalam shalat-shalat kita. Dan bagi pengurus atau takmir masjid ada baiknya untuk memilih menggunakan karpet yang polos ato misalnya gak pake karpet sekalipun tdak apa, yang penting menunjukkan sutrah dan suci. Keuntungan lainya selain shaf bisa rapat adalah masjid juga dapat memuat jamaah lebih banyak.
Semoga kita tidak termasuk orang -orang yang lalai. (^_^)

Monday, 25 November 2013

Bromo - Mengambil Pelajaran dari Setiap Perjalanan

Daya Tarik Bromo (ketika wisata alam kian diminati)

Ada banyak daya tarik dari wisata Gunung Bromo, antara lain adalah menikmati keindahan matahari terbit (sunrise) di Puncak Penanjakan pada ketinggian 2.770 meter di atas permukaan laut. Waktu yang tepat untuk datang ke sini pastinya pagi, sebaiknya subuh sudah standby.
Di Penanjakan ini merupakan spot yang paling favorit dibanding spot-spot lain yang juga bisa dikunjungi wisatawan untuk menikmati sunrise. dan beginilah gambaran keramaian yang terjadi di penanjakan.
Saat matahari mulai naik, para wisatawan disuguhi landscape gunung bromo serta barisan bukit-bukit indah dengan background gunung semeru yang merupakan puncak tertinggi pulau jawa.
Agak melongok kebawah, kita dapat melihat hamparan lautan pasir (kaldera) yang diselimuti awan putih yang lembut.
Puas di penanjakan, waktunya turun melihat langsung dari dekat kawah bromo. Terlihat ramainya pengunjung di gapura penanjakan mulai turun dan sebagian ada yang baru datang.
Menuju ke kawah, kita akan merasakan asyiknya menyusuri lautan pasir (kaldera) dengan motor atau kendaraan roda empat jenis 4x4
View gunung bathok di sebelah kawah gunung bromo, dan tempat parkiran dibawahnya adalah awal untuk pendakian.
Banyaknya pengunjung membuat tangga menuju kawah macet parah.. (harap sabar dan antri, dilarang saling mendahului)
 Dan ini penampakan ane dan kawah gunung bromo yang senantiasa mengeluarkan asapnya..


Makna yang Terlewatkan (Bukannya bermakrifat, jatuhnya malah maksiat)

Melihat kian membeludaknya pengunjung, pasti ada kontroversi yang mengiringi, mulai dari masalah kurangnya penanganan sampah (minim tempat sampah) yang bertemu dengan kurangnya kesadaran pengunjung untuk tidak membuang (meninggalkan) sampah secara tidak bertanggungjawab. termasuk juga bagaimana dengan nasib masa depan bunga keabadian (edelweis) yang secara terang-terangan dipetik dan diperdagangkan tanpa ada razia bahkan sanksi (baca: UU No. 5 Tahun 1990 Tentang Konservasi Sumber Daya Alam Hayati dan Ekosistem).

Selain masalah-masalah klise tersebut, pernahkah terbersit tanya tentang adakah sholat (subuh khususnya) yang dalam tanda petik sengaja ditinggalkan... Lalu apa hubungannya?

Pada hakikatnya mengagumi alam berarti mengagumi Tuhan sebagi Sang Pencipta. Dan salah satu cara untuk mendekatkan diri pada sang pencipta adalah dengan mengenal tanda-tanda kekuasaannya (makrifatullah) melalui alam semesta. Makrifatullah adalah buah dari ilmu, ilmu yang mampu mengantarkan manusia kepada keyakinan,bahwa tiada Tuhan selain Allah (laa ilaaha illallah). Untuk itulah, guna meraih kebahagiaan yang abadi manusia wajib mengenal Allah Swt. Caranya dengan mengenal ayat-ayat-Nya, baik ayat kauniah (jagat raya ini berikut isi-isinya termasuk manusia beserta isi hatinya) maupun ayat kauliyah (firman Allah dalam alqur'an).
"Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, pergantian malam dan siang, kapal yang berjalan di lautan dengan membawa barang yang bermanfaat kepada khalayak manusia, dan air yang diturunkan Allah dari langit (berupa air hujan), yang bias menghidupkan bumi setelah matinya (bias menumbuhkan pepohonan dan tanaman, padahal asalnya gersang), lalu binatang disebarkan di bumi dan diciptakan hembusan angin, awan yang berarak antara langit dan bumi, kesemuanya itu sebagai tanda atas kekuasaan Allah bagi kaum yang mau menggunakan akal pikirannya. (Al-Baqarah, 164)
Sayangnya, (Mungkin ini sedikit berbelit) tidak sedikit dari kita sadar atau tidak sadar terjebak pada situasi dilema yang mana faktor ramainya pengunjung telah membuat Tuhan tak lagi ditakuti, justru lebih takut jika kehilangan tempat dan kehilangan moment (dalam hal ini sunrise), jika meluangkan waktu untuk bersujud sejenak. belum lagi fasilitas mushalla yang terlalu kecil, itupun dipakai buat tidur pengunjung. Sehingga  mereka yang berdalih mendekatkan diri dengan Tuhan melalui ayat kauniah hanya sebatas mengagumi jagat raya secara kasat mata tanpa mampu mendengarkan isi hatinya.


Bagi yang sudah pernah melihat film "Vertical limit", anda pasti tahu tokoh Hakeem, seorang Muslim Pakistan yang tetap menjalankan ritual sholat (apapun kondisinya) di puncak dinginnya Himalaya, dalam misi perjalanan menyelamatkan 3 pendaki gunung lain yang terjebak badai salju.
“Sesungguhnya perjanjian antara kita dan mereka (yang membedakan antara kaum muslimin dengan kaum kafir) ialah shalat. Barangsiapa yang meninggalkan shalat ia menjadi seorang kafir” (Hadits riwayat An Nasai).
Bagaimana bisa kita bermakrifat jika ayat-ayat telah tersayat rayuan fatamorgana sesaat. Bagaimana mungkin juga bisa mendapatkan hakekat jika dengan syariat kita telah bermaksiat (dilanggar). Karena kegelapan hati tidak otomatis berseri meski mentari mulai tinggi. 

Seperti yang kita ketahui, hakekat dari sholat adalah mencegah perbuatan keji dan munkar.. (cek QS. 29:45)? pantas saja faktanya banyak yang tak lagi mempedulikan pelestarian alam (ex: buang sampah sembarangan). Bisa jadi (meski sebatas asumsi) jika diadakan riset hasilnya berbanding lurus. Bagaimana bisa mencapai hakekat yang sudah semestisa sejalan seirama.. Bukankah dengan meninggalkan sholat sebagai syariat agama ini sudah termasuk perbuatan mungkar?

Imam Malik mengatakan bahwa seorang mukmin sejati adalah orang yang mengamalkan syariat dan hakikat secara bersamaan tanpa meninggalkan salah satunya. Ada adagium cukup terkenal, “Hakikat tanpa syariat adalah kepalsuan, sedang syariat tanpa hakikat adalah sia-sia.” Imam Malik berkata, “Barangsiapa bersyariat tanpa berhakikat, niscaya ia akan menjadi fasik. Sedang yang berhakikat tanpa bersyariat, niscaya ia akan menjadi zindik.Barangsiapa menghimpun keduanya [syariat dan hakikat], ia benar-benar telah berhakikat.”

Lalu pertanyaannya kemudian, apa yang telah kita dapatkan dari wisata alam? adakah makna yang terlewatkan? 
 “Dan tiadalah kehidupan dunia ini, selain dari main-main dan senda gurau belaka, dan sungguh kampung akhirat iti lebih baik bagi orang-orang yang bertakwa. Maka tidakkah kalian memahaminya?” (QS. Al An’am 32) --> baca juga QS. Al Ankabut: 64, Muhammad: 36 dan Al Hadid: 20
Semoga kita mampu mengambil pelajaran dari setiap perjalanan. #think and act smart.

Saturday, 6 July 2013

Jadwal Imsakiyah Ramadhan 1434 h / 2013 (Wilayah Malang dan Pacitan)

Wilayah Malang dan Sekitarnya


***

Wilayah Pacitan dan Sekitarnya

 
 
"Selamat Menunaikan Ibadah Ramadhan.!"
 
sumber: http://www.rukyatulhilal.org/imsakiyah

Friday, 10 May 2013

Safari Jum'at (Masjid At-Tarbiyah UIN Malang)

بِسۡمِ ٱللهِ ٱلرَّحۡمَـٰنِ ٱلرَّحِيمِ

Siang ini, 10 Mei 2013 agenda Safari Jum'at saya adalah ke Masjid At-Tarbiyah UIN. Seperi biasanya, pukul setengah sebelas saya telah siap untuk berangkat, akan tetapi berhubung motor saya sedang dipinjam oleh teman dan belum kembali (dari pada menunggu lama dan itupun belum pasti), terpaksa menunggu teman kontrakan saya satunya yang baru selesai mandi untuk minta (tebengan) mewujudkan niat baik tersebut. Alhasil, kumandang adzan masjid justru telah mendahului keberangkatan. 
Dalam perjalananpun masih mendapat ujian, ternyata pintu gerbang yang belakang dekat dengan posisi masjid dalam keadaan tertutup (khusus pejalan kaki saja yang bisa masuk). Jadi kami harus muter masuk dari gerbang depan. maklumlah, baru pertama kali jum'atan di masjid UIN ini. Ada satu hal yang membuat saya kagum dan sangat apresiated melihat fenomena dimana petugas jaga gerbang masuk UIN adalah wanita, (Subhanalloh) betapa toleransi dan kebebasan dalam beribadah dijunjung tinggi di sini. Maksudnya, dengan yang menjadi petugas jaga adalah kaum wanita, maka kaum pria yang muslim pastinya bisa leluasa menjalankan kewajibannya menjalankan sholat jum'at. Hemmm.. dalam benak saya terlintas pikiran kapan kebijakan ini tidak diadopsi kampus saya?
Sesampainya di masjid, khutbah udah berlangsung, saya langsung bergegas masuk dan mengambil posisi di lantai dua shaf depan yang masih longgar, karena lantai satu (utama) sepertinya sudah penuh.
Tapi ada yang mengganjal di hati, di sana tadi saya tidak sempat berinfaq hal ini dikarenakan di dalam masjid tepat di lokasi saya duduk tidak ada kotak amal yang diedarkan (entah saya tidak tahu atau emang tidak ada) sedangkan di luar saya juga tidak menemukan kotak amal duduk. (lagi-lagi entah saya tidak tahu atau emang tidak ada). Ah sudahlah, Dalam hati saya, akan saya kasihkan pengemis di luar saja. Dan ternyata, satu lagi yang membuat saya kagum, di sini benar-benar berbeda dengan di kampus saya yang mana banyak pengemis masuk kampus, apalagi saat jum'atan mereka bukannya ikut melaksanakan sholat jum'at, tapi bak pedagang yang buka lapak berjajar di depan pintu masuk dan keluar Masjid meminta iba para jamaah. (Astaghfirullah, semoga Allah mengampuni dosa-dosa hamba yang lemah ini. dan saya bernazar akan mengakumulasikan jatah infaq jum'at ini ke jum'at pekan, InsyaAllah )

Khutbah 
"man 'amila sholihan"
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...